SAMPANG | REKAM SATU – Dua warga lanjut usia (Lansia) yang merupakan kakak beradik, Masdijha (70) dan Patha (60), menjalani hari-hari penuh keterbatasan di sebuah hunian tidak layak di Dusun Lenteng, Desa Nyeloh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.
Keduanya tinggal di sebuah gubuk tua berukuran kurang lebih 5 x 7 meter yang difungsikan sebagai tempat tinggal sekaligus dapur.
Kondisi bangunan tersebut sangat memprihatinkan, dengan dinding dari anyaman bambu yang sudah lapuk, berlubang, dan terancam roboh, jauh dari kategori rumah yang layak ditempati.
Saat musim hujan, air dengan mudah masuk melalui atap dan dinding yang bocor hingga membasahi lantai.
Keadaan ini kerap menghambat aktivitas harian mereka, termasuk memasak. Sebaliknya, pada siang hari suhu di dalam gubuk terasa menyengat, sementara pada malam hari udara dingin menusuk tubuh.
Penderitaan Masdijha kian berat setelah ia mengalami kecelakaan terjatuh ke dalam sumur yang mengakibatkan patah tulang.
Sejak saat itu, ia hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur sederhana tanpa alas kasur yang layak.
Di dalam gubuk tersebut, hanya terdapat satu lampu penerangan yang tersambung dari rumah tetangga dengan biaya sekitar Rp10 ribu per bulan.
Bahkan, perabot rumah tangga hampir tidak ada, termasuk fasilitas tidur yang memadai demi menjaga kesehatan kedua lansia itu.
“Kami hanya hidup berdua, saya dan kakak saya. Tidak punya anak dan sudah lama ditinggal orang tua sejak kecil,” ujar Patha dengan nada pelan, Senin (13/01/2026).
Patha menuturkan, setiap kali hujan turun, ia hanya bisa menutup celah-celah dinding menggunakan kain seadanya agar air tidak semakin banyak masuk ke dalam rumah.
Meski hidup serba kekurangan, ia mengaku berusaha bertahan tanpa sepenuhnya bergantung pada uluran tangan orang lain.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Patha terpaksa menjual satu-satunya sapi yang mereka miliki, terlebih setelah sang kakak mengalami kecelakaan dan membutuhkan biaya tambahan.
“Alhamdulillah, saya pernah menerima bantuan sebesar Rp900 ribu yang diambil di kantor pos. Dulu kami punya sapi, tapi setelah kakak saya jatuh ke sumur dan patah tulang, sapi itu kami jual untuk bertahan hidup,” katanya.
Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Nyeloh, Nuning Fanani, membenarkan kondisi memprihatinkan yang dialami kedua lansia tersebut.
Ia menyatakan bahwa pihak desa telah mengetahui keadaan mereka dan memastikan keduanya terdata sebagai penerima bantuan kesejahteraan.
“Kami sudah mengetahui kondisi nenek tersebut. Mereka terdaftar sebagai penerima bantuan kesra yang pencairannya melalui PT Pos Cabang Kedungdung. Dari pihak desa juga kerap memberikan bantuan,” pungkasnya. (*)
Penulis : Rls
Editor : JAUHED
Sumber Berita: REDAKSI REKAM SATU






