Krisis Empati di Era AI, Ketika Manusia Memilih Curhat Pada Mesin

- Redaksi

Kamis, 9 Juli 2026 - 13:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akh Haerul Mukhlis ( Mahasiswa STITA Jurusan PGMI)

i

Akh Haerul Mukhlis ( Mahasiswa STITA Jurusan PGMI)

SUMENEP | REKAM SATU – Di era artificial intelligence, manusia semakin mudah berbicara dengan mesin. Ia bisa mengeluh, menangis lewat teks, meminta nasihat, bahkan mencari rasa tenang dari chatbot yang menjawab tanpa marah dan tanpa menghakimi.

Fenomena ini tampak sederhana. Namun, di baliknya ada masalah besar yakni manusia modern semakin sulit menemukan manusia lain yang benar-benar mau mendengar.

Teman curhat berbasis AI lahir dari ruang kosong dalam kehidupan sosial. Banyak orang merasa sendirian, takut dihakimi, atau tidak punya tempat aman untuk bercerita. AI lalu hadir sebagai pendengar instan. Ia selalu tersedia. Ia menjawab cepat. Ia memberi kalimat yang tampak lembut. Akan tetapi, kemampuan memberi respons lembut tidak sama dengan empati sejati.

Empati bukan hanya soal memilih kata yang menenangkan. Empati adalah kemampuan untuk hadir, memahami, dan ikut memikul tanggung jawab moral terhadap penderitaan orang lain.

AI bisa meniru bahasa empati, tetapi tidak memiliki hati, pengalaman batin, iman, rasa bersalah, atau tanggung jawab manusiawi. Karena itu, AI dapat membantu manusia menata pikiran, tetapi tidak pantas menggantikan hubungan antarmanusia.

Masalah ini menjadi serius karena kesepian bukan sekadar perasaan sementara. WHO menjelaskan bahwa kesepian dan isolasi sosial berkaitan dengan peningkatan risiko stroke, penyakit jantung, diabetes, penurunan kognitif, kematian dini, depresi, kecemasan, dan pikiran untuk menyakiti diri sendiri. WHO juga mencatat bahwa orang yang kesepian memiliki risiko depresi yang lebih tinggi. ([Organisasi Kesehatan Dunia][1])

Dari sisi sains, AI companion memang dapat memberi rasa lega sesaat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendamping AI dapat menurunkan rasa kesepian dalam momen tertentu.

Namun, manfaat sesaat tidak otomatis berarti sehat dalam jangka panjang. Studi lain menemukan bahwa penggunaan chatbot yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya kesepian, ketergantungan emosional, masalah penggunaan AI, dan menurunnya sosialisasi dengan manusia nyata.

Di titik ini, kita perlu berpikir kritis. Masalahnya bukan hanya AI digunakan untuk curhat. Masalahnya muncul ketika manusia mulai lebih percaya pada mesin daripada pada keluarga, sahabat, guru, komunitas, atau tenaga profesional. Jika seseorang lebih nyaman bercerita kepada sistem digital karena manusia di sekitarnya terlalu sibuk, terlalu cepat menghakimi, atau terlalu dingin, maka krisisnya bukan hanya teknologi. Krisisnya adalah krisis relasi.

Islam memberi dasar yang kuat untuk membaca persoalan ini. Manusia diciptakan bukan untuk hidup sendiri. Islam mengajarkan taawun, ukhuwah, kasih sayang, dan kewajiban menjaga sesama.

Dalam Al-Quran, manusia dimuliakan oleh Allah. Maka manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar data emosi, pola percakapan, atau pengguna yang terus diarahkan agar bergantung pada sistem digital.

Dalam Islam, mendengarkan orang yang sedang terluka adalah bagian dari akhlak. Menolong orang yang sedang rapuh adalah bagian dari tanggung jawab sosial.

Karena itu, fenomena teman curhat AI seharusnya menyadarkan keluarga, kampus, sekolah, dan masyarakat bahwa banyak orang sedang kehilangan ruang aman untuk berbicara. Mereka tidak selalu butuh nasihat panjang. Sering kali, mereka hanya butuh didengar dengan sabar.

Namun, Islam juga tidak menolak teknologi. Teknologi dapat menjadi alat kemaslahatan jika digunakan dengan benar. AI boleh dipakai untuk menulis jurnal emosi, mencari penjelasan awal, menyusun pertanyaan reflektif, atau membantu seseorang memahami perasaannya.

Tetapi AI tidak boleh dijadikan sandaran utama untuk masalah batin yang berat. Untuk depresi, trauma, konflik keluarga, kecemasan berat, atau dorongan menyakiti diri, manusia tetap membutuhkan bantuan nyata dari orang terpercaya dan tenaga profesional.

Dari sisi etika teknologi, UNESCO menegaskan bahwa pengembangan AI harus berpusat pada martabat manusia, hak asasi, transparansi, keadilan, dan pengawasan manusia. Prinsip ini penting karena AI bukan hanya produk teknis.

AI memengaruhi cara manusia berpikir, mengambil keputusan, membangun hubungan, dan memahami dirinya sendiri.

Dampak sosial dari fenomena ini tidak bisa dianggap kecil. Jika manusia semakin terbiasa mencurahkan luka kepada mesin, masyarakat bisa terlihat terhubung secara digital tetapi rapuh secara emosional.

Keluarga bisa menjadi tempat tinggal tanpa kehangatan. Pertemanan bisa berubah menjadi formalitas. Kampus dan tempat kerja bisa menjadi ruang produktif tetapi miskin kepedulian. Manusia akhirnya sibuk berinteraksi, tetapi tidak benar-benar saling hadir.

Karena itu, solusi krisis empati di era AI tidak cukup dengan melarang teknologi. Larangan tanpa pemahaman hanya akan membuat manusia mencari ruang sembunyi baru. Solusi yang lebih tepat adalah membangun budaya mendengar.

Orang tua perlu belajar mendengar tanpa langsung menyalahkan. Teman perlu belajar hadir tanpa meremehkan. Kampus perlu menyediakan ruang konseling yang mudah diakses. Masyarakat perlu membangun lingkungan yang tidak mempermalukan orang yang sedang rapuh.

Pengembang AI juga harus ikut bertanggung jawab. AI tidak boleh didesain untuk membuat pengguna bergantung secara emosional.

Sistem AI seharusnya mendorong batas sehat, memberi peringatan saat percakapan mengarah pada krisis, dan mengarahkan pengguna kepada bantuan manusia ketika diperlukan.

Teknologi yang baik bukan teknologi yang menggantikan manusia, tetapi teknologi yang membantu manusia kembali kepada hubungan yang lebih sehat.

Pada akhirnya, fenomena teman curhat AI adalah cermin zaman. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak kekurangan alat komunikasi, tetapi sering kekurangan kehadiran. Kita hidup di masa ketika pesan bisa dikirim dalam hitungan detik, tetapi luka batin sering tidak punya tempat untuk pulang.

Krisis empati di era AI harus dijawab dengan ilmu, iman, dan kemanusiaan. Sains mengingatkan bahwa kesepian berdampak nyata pada kesehatan.

Islam mengingatkan bahwa manusia wajib saling menjaga. Kemanusiaan mengingatkan bahwa tidak ada teknologi yang dapat menggantikan kehangatan manusia yang tulus.

AI boleh semakin cerdas. Namun, manusia tidak boleh semakin dingin. Kemajuan teknologi harus berjalan bersama kemajuan akhlak. Jika tidak, kita mungkin berhasil menciptakan mesin yang pandai menjawab, tetapi gagal menjadi manusia yang mau mendengar.*

Facebook Comments Box

Penulis : Akh Haerul Mukhlis

Editor : JAUHED

Sumber Berita: REDAKSI REKAM SATU

Follow WhatsApp Channel rekamsatu.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Program MBG di Sumenep Terus Dibenahi, Korwil Tekankan Pentingnya Evaluasi
DPC PWRI Sumenep Gelar FGD “Ngombe”, Bahas Dampak Nyata Program MBG 
Karya Lukis Siswi SDIT Sumenep Pikat Hati Dirut BPRS Bhakti Sumekar 
Pengelolaan Aset Daerah Dinilai Tak Maksimal, DPRD Sumenep Bentuk Panitia Khusus 
TA Bupati Sumenep Dukung PWRI Jadikan Gerakan Literasi Agenda Rutin
Hilang Kendali, Pengendara Sepeda Motor Tewas Terlindas Minibus
Rebut Kursi Sekdakab Sumenep, DPRD Wanti Pansel Profesional dan Objektif 
Carok Berdarah Berujung Maut, Diduga Motif Asmara
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:17 WIB

Program MBG di Sumenep Terus Dibenahi, Korwil Tekankan Pentingnya Evaluasi

Kamis, 9 Juli 2026 - 13:05 WIB

Krisis Empati di Era AI, Ketika Manusia Memilih Curhat Pada Mesin

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:35 WIB

DPC PWRI Sumenep Gelar FGD “Ngombe”, Bahas Dampak Nyata Program MBG 

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:34 WIB

Karya Lukis Siswi SDIT Sumenep Pikat Hati Dirut BPRS Bhakti Sumekar 

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:40 WIB

Pengelolaan Aset Daerah Dinilai Tak Maksimal, DPRD Sumenep Bentuk Panitia Khusus 

Berita Terbaru

PROFIL: Salah seorang pengendara sepeda motor melintas di depan Gedung kantor Pemkab Sumenep (dok: istimewa/Redaksi Rekam Satu)

Kriminal

Oknum ASN Sumenep Diduga Terlibat Kasus Pemalsuan KTP

Jumat, 10 Jul 2026 - 17:46 WIB