ARTIKEL | REKAM SATU – Kehidupan pada dasarnya adalah sebuah sistem yang kompleks. Manusia sebagai makhluk multidimensional membutuhkan banyak hal untuk menjalani hidupnya secara utuh.
Ia membutuhkan agama sebagai penopang spiritualitas dan panduan moral, ekonomi sebagai alat bertahan hidup, interaksi sosial untuk membangun makna dan solidaritas, seni sebagai hiburan dan katarsis emosional, serta politik sebagai ruang negosiasi dan pengelolaan kepentingan bersama.
Namun yang sering membuat hidup terasa rumit bukanlah kebutuhan-kebutuhan itu sendiri, melainkan jalan yang ditempuh untuk mencapainya.
Kita hidup dalam zaman ketika setiap aspek kehidupan memiliki cabang dan tantangannya masing-masing.
Agama bisa menjadi sumber kedamaian, tapi juga bisa berubah menjadi sumber konflik. Ekonomi mendorong kemajuan, tetapi juga menumbuhkan kesenjangan.
Politik semestinya menjadi alat untuk menyatukan perbedaan, tapi tak jarang berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan.
Padahal, secara hakikat, kehidupan tidak banyak berubah sejak dahulu. Ia tetap menawarkan tantangan yang sama: bagaimana manusia bertahan, menemukan makna, dan hidup berdampingan.
Yang berubah adalah cara manusia membentuk alurnya. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya, manusia menciptakan sistem, struktur, bahkan ideologi yang justru seringkali mempersulit hidup itu sendiri.
Kita menciptakan kompleksitas yang terkadang melebihi kadar kebutuhan dasarnya.
Di sinilah refleksi menjadi penting: apakah kita masih mengarahkan kehidupan sesuai esensinya, atau justru terjebak dalam konstruksi-konstruksi yang kita ciptakan sendiri?
Mungkin sudah saatnya kita menata ulang prioritas, menyederhanakan niat, dan kembali pada akar, bahwa hidup ini, sesungguhnya hanya ingin dijalani dengan damai, bermakna, dan saling menghargai. (*)
Penulis: Amin Bashiri (Seniman Sumenep)
Penulis : HASAN LINTANG
Editor : JAUHED
Sumber Berita: REDAKSI REKAM SATU






