PASURUAN | REKAM SATU – Empat wartawan dari media lokal berbeda melakukan perjalanan jurnalistik ke Kota Pasuruan pada awal Juni 2025 ini.
Mereka berasal dari Warta9, Rangkuman, Rekam Satu, dan MaduraPost, dalam misi berbagi perspektif, menjelajah sejarah, serta menelisik denyut kehidupan masyarakat urban yang berkembang pesat di kota industri dan religi tersebut.
Perjalanan dimulai dengan kunjungan ke kawasan heritage di sekitar Alun-Alun Pasuruan. Para jurnalis mengamati sisa-sisa kejayaan masa lalu yang masih terpahat di gedung-gedung tua bergaya kolonial.
Bukan sekadar melihat, mereka mencatat, berdiskusi, dan memotret kondisi aktual situs-situs yang semakin terpinggirkan oleh pembangunan modern.
“Kota ini seperti museum terbuka yang belum dirawat dengan serius,” ujar Suhalis, wartawan Rekam Satu.
“Sebagai jurnalis, saya merasa terpanggil untuk mengangkat potensi sejarah yang terkubur dalam diam,” tambahnya.
Sementara itu, Hayat dari Warta9 lebih tertarik pada interaksi sosial masyarakat. Ia mewawancarai pedagang kaki lima di sekitar Jalan Soekarno-Hatta, tempat geliat ekonomi rakyat bergerak 24 jam tanpa henti.
“Ada denyut kehidupan yang jujur di sini. Pasuruan tak hanya tentang pabrik dan santri, tapi juga tentang perjuangan harian rakyat kecil yang layak didengar,” ungkap Hayat.
Dari sisi budaya, Ury, jurnalis Rangkuman, menyoroti kompleksitas kehidupan keagamaan dan budaya yang bersisian erat.
Ia menyoroti keberadaan pondok pesantren tua yang tetap eksis meski dikepung modernitas.
“Keseimbangan antara spiritualitas dan urbanisasi menjadi tantangan tersendiri. Pasuruan sedang berjuang mempertahankan jati dirinya,” kata Ury.
Hendra dari MaduraPost menekankan pentingnya sinergi antarmedia dalam membangun narasi lintas daerah.
“Perjalanan ini bukan sekadar pelesiran jurnalistik. Ini adalah langkah kecil untuk mempererat jaringan dan memperkaya perspektif berita,” tegasnya.
Di penghujung perjalanan, mereka menyempatkan diri berdiskusi di warung kopi pinggiran kota.
Obrolan ringan tentang dinamika media lokal menjadi penutup hangat dari perjalanan penuh makna tersebut.
“Kadang, cerita terbaik tidak kita temukan di ruang redaksi, melainkan di jalanan kota yang kita datangi bersama,” tutup Suhalis sambil tersenyum.
Perjalanan jurnalistik ini menjadi cermin semangat kolaboratif antarjurnalis muda yang berangkat dari akar lokal, namun tak pernah lelah menggali cerita yang tersembunyi di balik hiruk-pikuk kota. (*)
Penulis : HASAN LINTANG
Editor : JAUHED
Sumber Berita: REDAKSI REKAM SATU






