NGOCEH | REKAM SATU – Di antara mitos langit Tiongkok dan tanah yang bergolak di ujung timur Pulau Jawa, ada sebuah kisah yang tak tercatat dalam kitab suci manapun, namun hidup dalam bisikan angin pesisir dan gema lesung Madura.
Kisah tentang Sun Wukong, Sang Raja Kera dari Tiongkok, yang suatu hari menjejakkan kaki di pulau garam Madura.
Persinggahan Sang Raja Kera
Konon, setelah menuntaskan perjalanannya mengawal biksu Tong San Zang ke Barat, Sun Wukong tak segera kembali ke langit.
Ia ingin belajar tentang manusia lebih dalam, tak lagi sebagai dewa yang angkuh, tapi sebagai makhluk yang penasaran.
Perjalanannya menuntunnya ke tanah yang asing namun penuh semangat, Madura.
Madura menyambutnya bukan sebagai dewa, melainkan sebagai orang luar. Tapi justru di sinilah Sun Wukong belajar tentang “tengka, agama, dan harga diri” tiga nilai utama dalam kehidupan orang Madura.
Ia hidup di sebuah taneyan lanjhang, sebuah ruang komunal khas Madura di mana keluarga besar berkumpul dan nilai kekeluargaan dijunjung tinggi.
Belajar dari Carok
Sebagai makhluk yang dulu dikenal bengal dan cepat naik darah, Wukong merasa tertarik pada tradisi carok.
Namun bukan darah dan kekerasannya yang membuatnya terpikat, melainkan nilai kehormatan dan keberanian yang mendasarinya.
Ia mulai memahami bahwa dalam masyarakat Madura, pertarungan bukan semata dendam, tetapi pernyataan harga diri dan keadilan yang tak bisa ditawar.
Wukong, yang pernah mengacau langit dengan tongkat Ruyi-nya, kini belajar menahan tangan. Ia menyadari bahwa kekuatan sejati bukan pada pukulan, tapi pada kendali diri.
Santri dan Sakti
Sun Wukong pun mulai belajar agama di pesantren kecil di Sumenep. Ia dikenal para santri sebagai “Kera Sakti”, namun tak banyak yang tahu bahwa ia benar-benar seekor kera dari langit.
Ia belajar ngaji, mencicipi nasi jagung dan ikan asin, serta mengenakan sarung dan songkok. Ia berubah dari makhluk sakti menjadi santri sejati.
Di pesantren itu pula, ia menuliskan ajaran baru dalam kitab kecil yang kini hilang, berjudul “Serat Tongkat dan Taat”, yang mengajarkan bahwa kekuatan fisik harus selalu disertai dengan akhlak.
Warisan yang Tak Terlihat
Kini, tak ada yang tahu pasti di mana Sun Wukong berada. Ada yang bilang ia bertapa di goa-goa batu karang Pantai Badur.
Ada pula yang percaya, ia telah menjelma menjadi sosok tua berjubah hitam yang kadang muncul di tengah malam saat carok hendak pecah, hanya untuk berkata, “Hormat lebih sakti dari amarah.”
Namun yang pasti, nilai-nilai yang ia pelajari di tanah Madura tentang keberanian, kehormatan, dan pengendalian diri telah menjadi bagian dari dirinya. Dan barangkali, juga menjadi bagian dari kita semua.
Kisah ini memang tak tercatat dalam sejarah resmi. Tapi seperti banyak mitos di Madura, ia hidup dari mulut ke mulut, dari dongeng ke dongeng, dan dari hati ke hati.
Ia bukan sekadar cerita tentang kera sakti, melainkan tentang perjumpaan dua budaya, satu dari langit Tiongkok, satu dari tanah keras Madura.
Dan di antara keduanya, tumbuhlah sebuah legenda yang layak didengarkan, meski hanya sekali dalam hidup. (*)
DISCLAIMER: foto dan tulisan ini hanyalah cerita fiktif belaka, tidak bermaksud mengubah sejarah atau kepercayaan apa pun.
Penulis : JONI TERAS
Editor : JAUHED
Sumber Berita: REDAKSI REKAM SATU






