Kehidupan yang Kompleks dan Pilihan Manusia

- Redaksi

Senin, 9 Juni 2025 - 18:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ILUSTRASI. Kehidupan manusia sebagai sistem kompleks, menggambarkan kebutuhan spiritual, ekonomi, sosial, seni, dan politik yang saling terhubung. (Redaksi Rekam Satu)

i

ILUSTRASI. Kehidupan manusia sebagai sistem kompleks, menggambarkan kebutuhan spiritual, ekonomi, sosial, seni, dan politik yang saling terhubung. (Redaksi Rekam Satu)

ARTIKEL | REKAM SATU – Kehidupan pada dasarnya adalah sebuah sistem yang kompleks. Manusia sebagai makhluk multidimensional membutuhkan banyak hal untuk menjalani hidupnya secara utuh.

Ia membutuhkan agama sebagai penopang spiritualitas dan panduan moral, ekonomi sebagai alat bertahan hidup, interaksi sosial untuk membangun makna dan solidaritas, seni sebagai hiburan dan katarsis emosional, serta politik sebagai ruang negosiasi dan pengelolaan kepentingan bersama.

Namun yang sering membuat hidup terasa rumit bukanlah kebutuhan-kebutuhan itu sendiri, melainkan jalan yang ditempuh untuk mencapainya.

Kita hidup dalam zaman ketika setiap aspek kehidupan memiliki cabang dan tantangannya masing-masing.

Agama bisa menjadi sumber kedamaian, tapi juga bisa berubah menjadi sumber konflik. Ekonomi mendorong kemajuan, tetapi juga menumbuhkan kesenjangan.

Politik semestinya menjadi alat untuk menyatukan perbedaan, tapi tak jarang berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan.

Padahal, secara hakikat, kehidupan tidak banyak berubah sejak dahulu. Ia tetap menawarkan tantangan yang sama: bagaimana manusia bertahan, menemukan makna, dan hidup berdampingan.

Yang berubah adalah cara manusia membentuk alurnya. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya, manusia menciptakan sistem, struktur, bahkan ideologi yang justru seringkali mempersulit hidup itu sendiri.

Kita menciptakan kompleksitas yang terkadang melebihi kadar kebutuhan dasarnya.

Di sinilah refleksi menjadi penting: apakah kita masih mengarahkan kehidupan sesuai esensinya, atau justru terjebak dalam konstruksi-konstruksi yang kita ciptakan sendiri?

Mungkin sudah saatnya kita menata ulang prioritas, menyederhanakan niat, dan kembali pada akar, bahwa hidup ini, sesungguhnya hanya ingin dijalani dengan damai, bermakna, dan saling menghargai. (*)

Penulis: Amin Bashiri (Seniman Sumenep)

Facebook Comments Box

Penulis : HASAN LINTANG

Editor : JAUHED

Sumber Berita: REDAKSI REKAM SATU

Follow WhatsApp Channel rekamsatu.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengelolaan Aset Daerah Dinilai Tak Maksimal, DPRD Sumenep Bentuk Panitia Khusus 
Diduga Cabuli Cucu Sendiri, Kakek di Sumenep Pasrah di Tangan Polisi
Bupati Fauzi Kukuhkan Ribuan PPPK Paruh Waktu, Dorong Layanan Publik Berkualitas
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:40 WIB

Pengelolaan Aset Daerah Dinilai Tak Maksimal, DPRD Sumenep Bentuk Panitia Khusus 

Kamis, 7 Mei 2026 - 14:47 WIB

Diduga Cabuli Cucu Sendiri, Kakek di Sumenep Pasrah di Tangan Polisi

Senin, 1 Desember 2025 - 15:47 WIB

Bupati Fauzi Kukuhkan Ribuan PPPK Paruh Waktu, Dorong Layanan Publik Berkualitas

Senin, 9 Juni 2025 - 18:07 WIB

Kehidupan yang Kompleks dan Pilihan Manusia

Berita Terbaru

PROFIL: Salah seorang pengendara sepeda motor melintas di depan Gedung kantor Pemkab Sumenep (dok: istimewa/Redaksi Rekam Satu)

Kriminal

Oknum ASN Sumenep Diduga Terlibat Kasus Pemalsuan KTP

Jumat, 10 Jul 2026 - 17:46 WIB